Kamis, 16 Mei 2013

TEMPAT DUDUK SISWA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran bahwa penguasaan pengetahuan dan keterampilan hidup yang dibutuhkan siswa dalam menghadapi kehidupan rill adalah merupakan tujuan pendidikan. Tetapi dalam proses pembelajaran dalam kelas bagaiamana siswa dapat menguasai dan memahami bahan ajar secara tuntas masih merupakan masalah yang sulit. Hal tersebut dikarenakan bahwa dalam satu kelas para siswa adalah merupakan makhluk sosial yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek kecerdasan, pisikologis, biologis.
Dari perbedaan tersebut maka dapat menimbulkan beragamnya sikap dan anak didik di dalam kelas. Menjadi tugas guru bagaiman menjadikan keanekaragaman karakteristik siswa tersebut dapat diatasi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal itu merupakan tugas bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik. Keterampilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran tidak hanya tertuang dalam penguasaan bahan ajar atau penggunaan metode pembelajaran, tetapi proses pembelajaran yang baik akan dipengaruhi pula oleh iklim belajar yang kondusif atau maksimal berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang.
Banyaknya keluhan guru karena sukarnya mengelola kelas sehingga tujuan pembelajaran sukar untuk dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi apabila ada usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan maksimal. Misalnya penataan ruang kelas berupa pengaturan/ penataan tempat duduk yang sesuai dengan kegiatan yang sedang berlangsung.
Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dapat diketahui setelah diadakan evaluasi dengan seperangkat item soal yang sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran.
Dari permasalahan tersebut maka kiranya perlu bagi guru atau calon pengajar mengetahui dan memahami tentang pengelolaan kelas, salah satunya yaitu pengaturan ruangan kelas berupa penataan tempat duduk siswa.

1.2. Rumsan Masalah
·         Apakah Pengolahan Kelas?
·         Bagaimana Penataan Ruang Kelas?
·         Bagaimana Bentuk-bentuk Tempat Duduk?
·         Bagaimana Penataan Tempat Duduk?

1.3.Tujuan Penulisan
·         Memenuhi Tugas Matakuliah Bimbingan Konseling Pribadi Sosial
·         Mengetahuai Pengolaan Kelas dengan Cara Penataan Runga Kelas, Bentuk dan Penataan Tempat Duduk



BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Pengertian Pengelolaan Kelas
Menurut Winataputra (2003), menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosoi- emosional yang positif , serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.
Akhmad Sudrajat, menyatakan bahwa: “Pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas”.
Dan menurut Winzer menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran diantaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, lingkungan kelas (cahaya, temperatur udara, ventilasi) dll.
2.2.      Penataan Ruang Kelas
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkunagan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell yaitu:
1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)                 
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. yaitu:
·      Ukuran bentuk kelas
·      Bentuk serta ukuran bangku dan meja
·      Jumlah siswa dalam kelas
·      Jumlah siswa dalam setiap kelompok
·      Jumlah kelompok dalam kelas
·      Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).

Berkaitan dengan penataan ruang kelas belajar maka pada penulisan makalah ini hanya berkaitan dengan pengelolaan kelas berupa penempatan tempat duduk siswa saja.
2.3.      Tempat Duduk Siswa
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal.tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bias digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakandalam kelas dengan metode belajar ceramah. Dan untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan. Dan sebagai alternatif penataan tempat duduk dengan metode kerja kelompok atau bahkan bentuk pembelajaran kooperatif, maka menurut Lie ada beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya seperti:
§ Meja tapal kuda, siswa bekelompok di ujung meja
§ Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
§ Meja Panjang
§ Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
§ Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja
Dan masih ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif ini.
Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas yang kan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan.
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah :
§ Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
§ Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
§ Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
§ Persamaan dan perbedaan dalam bakat
§ Persamaan dan perbedaan dalam sikap
§ Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
§ Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
§ Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
§ Persamaan dan perbedaan dalam minat
§ Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
§ Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
§ Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
§ Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
§ Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.

Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa di atas, sangat berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa di kelas. Terutama berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa dan penataan tempat duduk dengan metode belajar kelompok guna menciptakan lingkungan belajar aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat terlaksana.
Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.
2.4.      Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas.
Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer (Winataputra, 2003: 9-21) bahwa “penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan”.
Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.
BAB III
PENUTUP
3.1.      Kesimpulan
Keterampilan pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas.
Salah satu bentuk pengelolaan kelas adalah penatan tempat duduk, dimana penatan tempat duduk perlu memperhatikan lingkungan fisik kelas dan juga keanekaragaman karakteristik siswa, serta mempertimbangkan kesesuaian metode yang digunakan dengan tujuan akhir dari pembelajaran itu sendiri.
Kondisi dan posisi tempat duduk dapat menentukan tingkat aktivitas belajar siswa di kelas. Hal tersebut sisebabkan karena tempat duduk yang nyaman akan membantu siswa untuk tenang dalam belajar dan apat pula menimbulkan gairah belajar siswa.


3.2.      Saran
Kiranya perlu menjadi perhatian bagi guru dan bahkan calon pengajar bahwa keterampilan mengelola kelas salah satunya penataan tempat duduk harus dikuasai. Pengelolaan kelas menyangkut kepada menciptakan iklim atau kondisi belajar yang kondusif dan aksimal. Melalui penatan tempat duduk yang tepat diharapkan akan menfasilitasi siswa untuk belajar dengan aktif. Adapun saran yang dapat dilakukan dalam penatan tempat duduk seperti:
§ Menentukan posisi tempat duduk yang disesuaikan dengan metode pembelajaran dan tujuan pembelajaran.
§ Kondisi baik bentuk, ukuran tempat duduk harus baik dan pas
§ Menggunakan tempat duduk yang mudah diatur atau diubah-ubah untuk mempermudah merubah posisi tempat duduk
§ Penempatan siswa sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya, misalnya menempatkan siswa yang berpostur tingi di belakang, menempatkan siswa yang hiper aktif di depan sehingga guru mudah untuk memantau.















DAFTAR PUSTAKA

Epa Muhopilah. (2008) Pengelolaan Kelas http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/pengelolaan-kelas
Akhmad Sudrajat (2008). Penataan tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengolahan Kelas. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/

KEANGGOTAAN KELOMPOK


 
MAKALAH
KEANGGOTAAN KELOMPOK
MATA KULIAH : DINAMIKA KELOMPOK
Description: Description: C:\Users\User\Documents\SETING UNDANGAN\LOGO\Logo-logo\ups1.jpgDOSEN PENGAMPU : AGUS MAEMUN, MPd






KELAS II C
NAMA KELOMPOK 5 :
·           HASAN BASRI (1111500189)
·           AKHMAD PARKHANI (1111500003)
·           MUH ARI KHAKUL YAKIN (1111500121)
·           PUTRI ARTI WULAN . A (1111500133)

BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012
KATA PENGANTAR
Dengan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: “Keaanggotaan Kelompok”
Saya menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada desen pengampu Agus Maemun, MPd mata kuliah Dinamika Kelompok .
Makalah ini memang masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, saya akan menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini, dan saya berharap makalah ini dapat berguna bagi yang membacanya.





                                                                                    Tegal, 17 April 2012

                                                                                                                                                Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                        1
KATA PENGANTAR                                                                                      2
DAFTAR ISI                                                                                                     3
BAB I PENDAHULUAN                                                                                5
A.    Pendahulan                                                                                            5
B.     Latar Belakang                                                                                       5
C.     Rumusan Masalah                                                                                  6
D.    Tujuan                                                                                                    6
BAB II PEMBAHASAN                                                                                 7
A.    Hakikat Kelompok                                                                                 7
a.    Hubungan Antar Anggota                                                                 7
b.   Tujuan Bersama                                                                                 7
c.    Adanya Hubungan Langsung Antara Besarnya kelompok dan Sifat Kehidupan Kelmpok                      8
d.   Itikad dan Sikap Para Anggota                                                         8
e.    Kemandirian Merupakan Unsur Penting yang Menyangkut Anggota-anggoota Kelompok                     9
B.     Sikap Keanggotaan Kelompok                                                              10
C.     Kepemimpinan Okasional Anggota Kelompok                                     11
D.    Komunikasi Dalam Kelompok                                                               12
BAB III PENUTUP                                                                                          13
A.    Kesimpulan                                                                                            13
B.     Saran                                                                                                      13
C.     Kata Penutup                                                                                         13
DAFTAR PUSTAKA                                                                                       14


















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Ditinjau dari pengertian kelompok yaitu bahwa kelompok merupakan sekumpulan individu-individu yang mempunyai hubungan-hubungan tertentu,yang membuat mereka saling ketergantungan satu sama lain dengan ukuran-ukuran yang bermakna.sehingga kelompok berfungsi untuk melangsungkan hidupnya karena dngan kelompok manusia dapat memenuhi kebutuhan,mengembangkan diri, mengembangkan potensi ,serta aktualisasi diri. Secara umu kelompok sering diartikan sebagai kumpulan beberapa orang yang memiliki norma dan tujuan tertentu,memiliki ikatan batin antara satu dengan yang lain,serta meski bukan resmi,tapi memiliki beberapa unsur kepepimpinan didalamnya. Sehingga didalam ini terdiri dari keanggotaan kelompok yang mempunyai hakikat keanggotaan kelompok serta syaratdan peranan yang harus dimainkan anggota kelompok, sikap keanggotaan kelompok sewrta peran anggota kelompok.
B. Latar Belakang
Sebagai mahasiswa/mahasiswi secara langsung maupun tidak langsung merupakan anggota kelompok yang tentunya harus tahu dan mempelajari lebih dalam tentang hakikat keanggota kelompok serta syarat dan peranan yang harus dimainkan anggota kelompok ,sikap keanggotaan kelompok serta peran anggota kelompok.





C.     Rumusan Masalah
  1. Sejauh mana sebagai keanggotaan kelompok berperan dalam kelompoknya?
  2. Syarat apa saja yang diperlikan anggota kelompok ?
  3. Sikap-sikap anggota dalam kelompok ?
  4. Karakteristik kelompok ditinjau dari keanggotaanya ?
  5. Seberapa penting peranan anggota dan ketua kelompok?

D. Tujuan
1.                  Mengetahui keanggotaan kelompok
2.                  Syarat-syarat keanggotaan kelompok
3.                  Sikap keanggotaan kelompok
4.                  Mempelajari kelompok ditinjau dari karakteristik keanggotaannya
5.                  Peranan anggota kelompok







BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Kelompok
Tinjauann dasar tentang anggota kelompok adalah anggota,sehingga dapat diartikan bahwa kelompok itu terdiri dari anggota-anggota. Jadi anggota itulah yang disebut kelompok.
Para ahli menyebut lima hal yang hendaknya diperhatikan dalam menilai apakah kehidupan sebuah kelompok adalah baik atau kurang baik,yaitu (1)hubungan yang dinamis antar anggota, (2).tujuan bersama, (3). Hubungan antara besarna kelompok (banyaknya anggota) dan sifat kegiatan kelompok, (4). Itikad dan sikap terhadap orang lain dan (5). Kemampuan mandiri.
a.    Hubungan Antar Anggota
Jika dalam kelompok  tersebut  hanya  terdapat  hubungan  antara anggota dan pemimpin, sedangkan hubungan antara anggota sama sekali tidak terasa, sebenarnya dinamika kelompok yang di maksud telah lenyap kehidupan kelompok sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah sekumpulan orang saling dinamis antara anggota kelompok berarti masing-masing anggota tersebut berkepentingan untuk bergulat  dengan suasana antar hubungan tersebut , khususnya suasana perasaan yang tumbuh di dalam kelompok seperti rasa diterima atau di tolak, rasa cinta atau benci, rasa berani atau takut, semua menyangkut reaksi dan tanggapan anggota berdasarkan keterlibatan dalam saling berhubungan.
b.   Tujuan Bersama
Tujuan bersama adalahpusat dari kegiatan atau kehidupan kelompok. Dalam kelompok tugas, tuuan bersama nampaknya lebih jelas, yaitu menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kelompok tersebut. Dalam kelompok bebas, tuuan bersama pada mulanya kabur dan justru klompok itu sendirilah yang harus menetapkan tujuan yang akan mereka capai. Pada umumnya, tujuan bersama dalam kelompok bebas adalah pengembangan pribadi tiap-tiap anggota kelompok. Tuan yang lebih nyata (konkret) misalna berbunyi agar tiap-tiap anggota dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakanya dan memperoleh tanggapan dan reaksi dari anggota lainnya. Tanpa adanya tujuan bersama yang nyata, baik dalam kelompok tersebut , hendaknya di mengerti dan di terima oleh semua anggota kelompok dan tanpa tujuan kelompok akan kacau dan tidak menentu.
c.    Adanya Hubungan Langsung  Antara Besarnya Kelompok Dan Sifat Kehidupan Kelompok.
Terdapat beberapa jenis kelompok  menurut  jumblah anggotanya misalnya kelompok dua terdiri dari suami-istri, dokter-pasien, konselor-konseli merupakan kelompok paling ideal  untuk terciptanya keakraban yang paling tinggi, tetapi bahayanya yang ada yaitu kemungkinan timbulnya pertentangan/pertengkaran di antara mereka berdua. Kelompok tiga adalah terdiri atas tiga orang . dinamika hungan segitiga mungkin dapat tumbuh dengan baik, bahayanya sebenarnya adalah salah seorang anggota tersebut  dapat terasing jika dua orang yang lain membuat persekutuan. Kelmpok 4-8 orang adalah kelompok sedang yang dapat di selenggarakan oleh konselor  dalam rangka bimbingan kelompok, kelompok ntersebut  tidak di pimpin oleh seorang konselor tetapi  dapat memilih pemimpinya sendiri atau setidakna dapat menentukan aturan-aturan tertentu sebagai  bagian dari kegiatan seluruh angota. Terdapat keragaman di antara anggota-anggotanya  sehingga suasana kelompok dapat lebih hangat. Kelompok 8-40 orang merupakan kelompok yang baik untuk tujuan pendidikan tertentu. Kelompok tersebut kurang efektif untuk menciptakan keakraban sosial dalam waktu yang singkat.hal-hal dalam kelompok tersebut seperti latihan kepemimpinan atau latihan menghilangkan rasa malu berbicara di muka umum.
d.   Itikad dan Sikap Para Anggota
Itikad baik dalam arti tidak mau menang sendiri, tidak sekedar menaggapi atau menerang pendapat orang lain merupakan hal yang sangat penting. Sikap para anggota yang di maksud ialah setiap anggota dapat memberi waktu dan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan pendapatnya secara leluasa. Apabila sikap seperti ini berkembang kehidupan kelompok yang baik dapat tumbuh sedangkan dalam kelompok para anggota merasa terkungkung, tidak bebas atau terpaksa kehidupan kelompok menjadi macet. Hal tersebut bukan berati bahwa semua anggota keelompok harus merasa bebas dan suka rela masuk kedalam kelompok sejak awal kelompok tersebut memulai kegiatan tugas utama pemimpin kelompok.
e.    Kemandirian Merupakan Unsur Penting Yang Menyangkut Anggota-Anggota Kelompok
Dalam kemadirian, setiap anggota kelompok tidak terbawa oleh pendapat anggota lain atau tidak mengiakan yang dikatakan oleh pemimpin kelompok. Jika anggota terbawa atau mengiakan yang dikatakan oleh anggota lain atau pemimpin maka kehidupan kelompok akan dingin atau mungkin kehidupan kelompok/dinamika kelompok itu tidak ada sama sekali. Dalam dinamika kelompok setiap anggota diharapkan mengembangkan dan mewujudkan kemandirian masing-masing. Peranan hendaknya dimainkan oleh anggota kelompok agar dinamika kelompok benar-benar seperti yang diharapkan diantaranya dengan :
1.      Membantu terbinanya suasana keakraban dalam kelompok
2.      Mencurahkan segenap perasaan saat melibatkan diri dalam kegiatan kelompok
3.      Berusaha agar yang dilakukannya tersebut membantu tercapaina tujuan bersama
4.      Membantu tersusunya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik
5.      Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok
6.      Mampu berkomunakasi secara terbuka
7.      Berusaha membantu anggota lain
8.      Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk ikut menjalankan peranannya
9.      Menyadari pentingnya kegiatan kelompok
Letak pentingnya peranan pemimpin kelomok dalam mempersiapkan anggota kelompok dengan memberitahukan :
1.      Keikutsertaan dalam kelompok adalah sukarela
2.      Apa saja yang diharapkan dari para anggota, suasana khusus yang dapat terjadi dalam kelompok itu, dan peran serta cara-cara yang akan dilakukan oleh pemimpin kelompok
3.      Anggota kelompok bebas menangapi hal-hal yang disampaikan ataupun menolak saran-saran yang diberikan anggota lain
4.      Hasil kegiatan-kegiatan mereka diluar anggota
5.      Segala yang terjadi dan isi dari kegiatan kelompok bersifat rahasia

B.     Sikap keanggotaan kelompok
Kehidupan psikologis dalam kelompok banyak ditentukan oleh sikap anggota-anggota kelompok terhadap kelompoknya dan terhadap anggota-anggota lain didalam kelompok. Setiap anggota kelompok yang menjadi anggota suatu kelompok hendaknya memahami sikap teman-temannya dan menghayati sikap dirinya sendiri dengan harapan setiap anggota kelompok dapat membawa diri dengan baik dan dapat menghadapi sikap anggota-anggota lain dengan reaksi-reaksi positif. sikap seorang anggota kelompok dan anggota-anggota lain dapat didefinisikan dengan sebuah matrik. Contoh pola yang dituangkan dalam matrik adalah tentang :
1.      Bagaimana sikap kelompok, gejala dan tindakan yang disampakan.
2.      Bagaimana cara bertindak , sikap individual dan kemungkinan sebabnya dan tindakan yang disarankan
Contoh  1 :
Sikap kelompoknya               :  cemeriang, aktif, responsif
Gejalanya                               : mengungkapkan ide dan saran dengan cepat, terkadang tanpa memikirkanya dengan cukup matang.
Tindakan yang disampaikan : kegiatan kelompok perlu diperlambat tanpa mematikam inisiatip.
Cotoh 2 :
Cara bertindak                     : terlalu banyak bicara
Sikap individual dan kemungkinan sebabnya : orang tersebut mngkin seorang tukang pamer atau oarang yang banyak tahu dan ingin menunjukannya atau sekedar pembawaan alami
Tindakan yang disarankan : jangan membuat malu atau sarkastik . mungkin suatu saat sifatna tersebut anda butuhkan.
C.    Kepemimpinan Okasional Anggota kelompok
Tingkah laku yang merupakan petunjuk berjalannya fungsi kepemimpinan yaitu :
1.      Initianing                  : mengambil prakarsa tentang apa yang perli dikerjakan dan bagaimana caranya
2.      Giving Information :  memberi informasi yang relevan dengan persoalan
3.      Giving Opinion        :  menyatakan peendapat tentang sesuatu
4.      Clarifying                 :  mengungkapkan kembali atau memperjelas suau pengertian.
5.      Controling                :  memperhatikan, mengawasi, dan mengecek proses kegiatan didalam     kelompok
6.      Setting standart        :  mengemukakan kriteria untuk mengukur hal-hal yang dihasilkan kelompok.
7.      Hamonizing              :  mengakurkan pihak-pihak yang konflik atau mempertemukan pendapat.
8.      Summarizing            :  merangkum atau merevisi apa yang telah dilakukan kelompok
9.      Regulating                :  mengatur lalulintas pendapat anggota kelompok dan memberikan berbicara.
Dalam kegiatan kelompok yang berjalan secara baik akan berjalan baik pula fungsi-fungsi yang ada dalam kelompok termasuk kepemimpinan kelompok.

D.    Komunikasi dalam kelompok
Pola komukasi yang ada umumnya berlaku didalam kelompok ialah yang disebut pola dasar komunikasi bintang dan pola dasar komunikasi roda. Pola dasar komunikasi roda, komunikasi didalam kelompok lebih partisipastif dan demokretif cenderung mengembangkan keterlibatan dan komitmen anggota kelompok diprlukan waktu yang banyak. Sebaliknya pola dasar komunikasi bintang komunikasi didalam kelompok bersifat direktif dan otokratik. Waktu yang di perlukan untuk berkomunikasi  relatif singkat, tetapi melibatkan sedikit anggota kelompok dan dirasakan lebih banyak kontrol dan memungkinkan timbulnya kekerasan. Secara teoritis, perluasan pola-pola komunikasi dasar tersebut dapat dilakukan dengan menggambarkan anak-anak panah kesegala arah.





BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
1.      Sebagai anggota kelompok kelompok harus memahami tentang keanggotaan kelompok baik sebagai anggota kelompok murni maupun anggota kelompok yang merangkap sebagai pemimpin kelompok.
2.      Syarat-syarat anggota kelompok yang baik hendaknya perlu di perhatikan : Hubungan antara anggota, Tujuan bersama, Adanya hubungan langsung antara besarnya kelompok dan sifat kehidupan kelompok , Etia dan sikap ara anggota serta kemandirian merupakan unsur penting yang menyangkut anggota-anggota kelompok.
3.      Sikap yang baik harus di lakukan oleh anggota kelompok .
4.      Sebagai angota kelompok juga memahami karakteristik keanggotaannya.
5.      Sebagai anggota kelompok tahu perannya sehingga kelompok akan menjadi baik.
B.                 SARAN
Dalam bimbingan kelompok, seluruh anggota kelompok di harapkan dapat melaksanakan semua peranan tersebut dngan baik. Akan tetapi , Tentulah sangat di harapkan jika setiap anggota kelompok memahami peran dan tugasnya sebagai anggota. Sebaliknya, pemimpin kelompok harus dapat membaca sikap anggota kelompok yang dapat mengganggu tugasnya sebagai pimpinan kelompok.
C.                 KATA PENUTUP
Demikian penulis membahas tentang “ keanggotaan kelompok “ mudah-mudahan akan berguna dalam dunia pendidikan yang bertujuan memperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Tentunya bagi mahasiswa bimbingan dan  konseling  akan mempelajari terus-menerus  tentang keanggotaan kelompok sehingga secara khusus akan mempelajari tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dra. Hj. Siti Hartinah DS., MM. 2009. Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung. PT Refika Aditama.
Carolina Nitimihardjo dan Jusman Iskandar. 1993. Dinamika Kelompok. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial.
Yusuf, Yusmar. 1998. Dinamika Kelompok. Bandung: Armico
Selamet sentosa. 1992. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Ak