Selasa, 30 April 2013

TEORI BEHAVIORAL

MAKALAH
TEORI BEHAVIORAL
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Model-Model Konseling
Dosen Pengampu : Rela Amalia, S.Pd




OLEH :
Kelas 4 C
1.      Hasan Basri                       (1111500189)
2.      Imas Maspupatun              (1111500194)
3.      Muh. Ari K.Y                     (1111500121)
4.      Winda Puji Asih                 (1111500165)

BIMBINGAN  DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENNDIDIKAN
2012





A.  Sejarah Perkembangan
Perkembangan  koseling  behavioral  bertolak  dari  perkembanngan  aliran behavioristik  dalam  perkembangan  psikologi  yang  menolak  pendapat  aliran strukturalisme  yang berpendapat  bahwa  mental,  pikiran  dan  perasaan  hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi. Aliran  Behaviorisme  menolak  metode  introspeksi  dari  aliran  strukturalisme dengan  sebuah  keyakinan  bahwa  menurut  para  behaviorist  metode  introspeksi  tidak dapat  menghasilkan  data  yang  objektif,  karena  kesadaran  menurut  para  behaviorist adalah sesuatu  yang  tidak  dapat  diobservasi  secara langsung,  secara  nyata  (Walgito,2002:53).  Bagi  aliran  Behaviorisme  yang  menjadi focus  perhatian  adalah  perilaku  yang  tampak,  karena  persoalan  psikologi  adalah tingkah  laku,  tanpa  mengaitkan  konsepsi-konsepsi  mengenai  kesadaran  dan mentalitas.
Pada awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun pada  saat  yang  hamper  bersamaan  di  Amerika  behaviorisme  muncul  dengan  salah satu tokoh utamanya John B. Watson. Watson memandang Inti dari behaviorisme adalah memprediksi dan mengontrol perilaku. Karyanya diawali dengan artikelnya psychology as the behaviorist views it pada tahun 1913. Di dalam artikelnya tersebut Watson mengemukakan pandangan behavioristiknya yang membantah pandangan strukturalisme dan fungsionalisme tentang kesadaran. Menurut Watson (behaviorist view) yang dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran, kaena kesadaran adalah sesuatu yang  tidak  dapat  diobservasi  secara langsung,  secara  nyata. Metode-metode obyektif Watson lebih banyak menyukai studi mengenai binatang dan anak-anak, seperti sebuah studi yang ia lakukan dalam pengkondisian rasa takut pada anak-anak.
B.  Konsep Dasar Konseling Behavioral
Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar :
a)      Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.
b)      Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negative bisa memperlemah tingkah laku.
c)      Peniruan, orang tidak memerlukan reinforceman agar bisa memiliki tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:
a.       Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang bersangkutan
b.      Tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai public positif.

Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.
Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

C.  Hakikat Manusia
Hakikat manusia dalam pandangan para behavioristik adalah pasif dan mekanistis, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi Muhamad Surya (1988:186) menjelaskan tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristic sebagai berikut : dalam  teori  ini menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada  lingkungan  dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministic dan sedikit peran aktifnya dalam  memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk  kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Konseling behavioral ini berpandangan bahwa manusia itu:
a)      Lahir dalam mempunyai bawaan netral, artinya manusia itu berhak untuk berbuat baik/buruk/jahat.
b)      Lahir dengan membawa kebutuhan dasar dan dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan.
c)      Kepribadian manusia berkembang atas dasar interaksi dengan lingkungannya.
d)     Mempunyai tugas untuk berkembang melalui kegiatan belajar.
e)      Manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan.

D.  Hakekat Konseling
Hakikat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang sesuai.
Konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ; penyusunan kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan eveluasi perilaku. Dengan prosedur tersebut konseling/terapi behavior berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang maladaptif menjadi adaptif.

E.  Tujuan Konseling
Sesuai dengan namanya maka tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi.  Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
a)      Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
b)      Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (tidak baik) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
c)      Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
d)     Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor

F.   Karakteristik
1.      berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik karena Kebanyakan prilaku manusia dipelajari dan karena itu dapat diubah
2.      Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam mengubah prilaku-prilaku yang relevan. Prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam prilaku klien dengan mengubah lingkungan.
3.      Prinsp-prinsip belajar spesial seperti “reinforcement” dan “social modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
4.      Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam prilaku-prilaku khusus di luar wawancara prosedur-prosedur konseling.
5.      Prosedur-prosedur konseling tidak statis, tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi dalam secara khusus didesain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus

G. Peran Dan Fungsi Konselor
Konselor dalam behavior therapy secara umum berfungsi sebagai guru dalam mendiagnosa tingkah laku yang tidak tepat dan mengarah pada tingkah laku yang lebih baik. Peran konselor secara khusus diantaranya :
1.      Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atau tidak.
2.      Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling.
3.      Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

H.  Hubungan Konselor Dengan Klien
Dalam konseling behavioral klien dan konselor aktif terlibat di dalamnya. Klien secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan serta memiliki motivasi untuk berubah dan bersedia bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan konseling. Peran penting klien dalam konseling adalah klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru yang bertujuan untuk memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya serta dapat menerapkan perilaku tersebut dalah kehidupan sehari-hari.
Situasi Hubungan Dalam terapi behavioral, hubungan antara terapis dan klien dapat memberikan kontribusi penting bagi perubahan perilaku klien. Hubungan terapis sebagai fasilitator terjadinya perubahan. Sikap konselor seperti empati, permisif, acceptance dianggap sebagai hal yang harus ada, namun tidak cukup untuk bisa menciptakan perubahan perilaku. Pemecahan masalah bukan pada pentingnya hubungan, namun peranan hubungan sebagai landasan strategi konseling untuk membantu klien berubah sesuai dengan arah yang dikehendaki.

I.     Tahap Konseling
1.      Tahap  Penilaian (Assesmen)
Yaitu tahapan yang mensyaratkan konselor mampu untuk memahami karakteristik klien beserta permasalahannya secara utuh (mencakup aktivitas nyata, perasaan, nilai-nilai dan pemikirannya). Sehubungan dengan hal ini, maka konselor harus terampil dalam mengumpulkan berbagai informasi/data klien, instrumen yang digunakan dan sumber data yang valid.
2.      Tahap Penetapan tujuan (Goal setting)
Yaitu antara konselor dan klien menetapkan tujuan konseling berdasarkan analisis dari berbagai informasi/data. Dalam tahap ini telah disepakati kriteria perubahan tingkah laku yang perlu dilakukan klien dalam rangka memecahkan masalahnya.
3.      Tahap Penerapan teknik  (Techniques implementation)
Yaitu penerapan ketrampilan dan teknik-teknik konseling dalam upaya membantu klien mengatasi masalahnya (merubah perilakunya). Dalam hal ini disamping harus menguasai konsep dasar konseling behavior, konselor harus benar-benar mampu menerapkan berbagai teknik konseling.
4.      Tahap evaluasi dan terminasi (Evaluation and Termination)
Yaitu tahapan dimana seorang konselor mengetahui perubahan perilaku klien sebagai tolok ukur proses konseling berlangsung. Terminasi, yaitu pemberhentian proses konseling yang bertujuan untuk:
a)      Menguji apa yang dilakukan klien pada dekade terakhir.
b)      Eksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan
c)      Membantu klien mentransfer apa yang dipelajari klien
d)     Memberi jalan untuk memantau tingkah laku klien secara berkelanjutan.

J.    Teknik Konseling
1.      Desentisasi sistematik (Systematic desensitization)
 teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistik (keadaan relaksasi).
2.      Latihan Asertif (Assertive training)
yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya (misalnya: ingin marah tetapi tetap berespon manis). Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).
3.      Terapi Aversi (Aversion therapy )
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku yang positif. Dalam hal ini konselor dapat menerapkan punishment (sangsi) dan reward (pujian/hadiah) secara tepat dan proposional terhadap perubahan perilaku klien.

4.      Terapi implosif dan pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Teknik pembanjiran ini tidak menggunakan agen pengkondisian balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
5.      Pekerjaan Rumah (Home work)
Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas rumah (untuk satu minggu), misalnya: tidak menjawab apabila klien dimarahi ibunya atau bapaknya.

K. Kelebihan Dan Kekurangan
·         Kelebihan
1.      Mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada proses koseling
2.      Mengembangkan perilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
3.      Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan pada perilaku yang terjadi dimasa datang.

·         Kelemahan
4.      Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
5.      Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
6.      Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
7.      Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.



A.  Kesimpulan
Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Hal  yang  paling  mendasar  dalam  konseling  behavioral  adalah  penggunaan konsep-konsep  behaviorisme  dalam  pelaksanaan  konseling, .
Tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Klien menghadapi masalah karena salah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau masalah itu timbul karena terjadi penyimpangan perilaku dari apa yang seharusnya ia lakukan. Maka melalui konseling behavioral ini klien diharapkan mampu untuk meningkatkan ketrampilan sosial, memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan mengembangkan keterampilan self manajemen dan self control.

B.  Saran
Bentuk terapi konseling yang dibahas dalam makalah singkat ini dapat digunakan untuk terapi klien yang mengalami permasalahan dalam bertingkah laku. Dalam penerapan model konseling ini hendaknya konselor memiliki keahlian dan kerampilan yang benar-benar sesuai dan profesional pada bidangnya.

                       


DAFTAR PUSTAKA

Pujosuwarno, Sayekti dkk, (1993), Berbagai Pendekatan Dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mos Offset.
Surya, H. Muhamad, (2003), Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Akhmad Sudrajat (2008), pendekatan konseling behavioral http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-behavioral/

5 komentar: